Showing posts with label Tasawwuf. Show all posts
Showing posts with label Tasawwuf. Show all posts

5 Cara Menghadirkan Rasa Takut Kepada Allah

5 Cara Menghadirkan Rasa Takut Kepada Allah,- Setiap orang bahkan seluruh makhluk, pasti memiliki rasa takut. Rasa takut Allah tanamkan dalam hati agar tidak menghadirkan rasa sombong dalam diri, serta sebagai sarana seorang hamba mendekatkan diri kepada Tuhannya. 


Hujjatul Islam Imam Abu Hamid Al-Ghazali menuturkan “takut itu adalah cambuk Allah. Dengan cambuk itu, digiringlah hamba-hambaNya untuk selalu tetap tekun pada ilmu dan amal. Dengan ilmu dan amal, maka mereka akan mendapatkan derajat yang tinggi disisi Tuhannya.”

Sementara itu para ulama tasawwuf membagi kadar rasa takut dalam diri seseorang menjadi beberapa tingkatan. Tingkatan yang paling rendah adalah rasa takut yang singkat, kemudian yang sedang, dan selanjutnya yang berlebihan.  Dalam hal ini, para ulama mendeskripsikannya.

1. Rasa Rakut Yang Singkat
Rasa takut ini adalah perasaan mudah tersentuh oleh sesuatu yang lembut, misalnnya ketika seseorang mendengarkan bacaan Al-Qur’an yang kemudian tanpa terasa meneteskan air mata dan membuatnya semakin ingat kepada Tuhannya serta mengingat segala dosa-dosanya. Akan tetapi selang beberapa saat rasa takut itu hilang, dan ia kembali lagi seperti biasa, tanpa pernah merasakan kesedihan yang telah dialaminya.

Rasa takut yang demikian itu sedikit manfaatnya. Seperti halnya dahan kecil  yang digunakan untuk mencambuk kuda yang kekar. Dahan itu tidak akan mampu menyakiti kuda itu sama sekali dan tidak berhasil menggiringnya ke suatu tujuan. Itulah kadar rasa takut yang ada pada kebanyakan orang. Kecuali orang-orang yang arif dan para ulama. Mereka memiliki rasa takut yang membekas dan dapat dijadikan cambuk untuk istiqamah dalam mendekatkan diri kepada Allah.

2. Rasa Takut Yang Sedang
Rasa takut ini adalah perasaan yang dapat mendorong seseorang untuk berbuat, rasa takut yang bagaikan cambut untuk mengantarkan seseorang sehinngga mau melakukan sesuatu. Takut yang demikian ini menimbulkan sebuah harapan. Karena manfaat dari rasa takut ini ialah terciptanya kehati-hatian, wara’, takwa, mujahadah, ibadah, berpikir, dzikir dan amalan-amalan mulia lainnya yang mengartarkan seseorang mencapai maqam yang mulya di sisiNya.

3. Rasa Takut Yang Berlebihan
Rasa takut ini adalah kadar rasa takut yang melampaui kewajaran. Orang yang mempunyai rasa takut yang berlebihan akan membawa dirinya cendrung putus asa dan hilang harapan. Sehingga takut yang seperti ini justru akan membawa dampak negatif bagi dirinya sendiiri, yakni tidak mau berbuat sesuatu, bahkan melaksanakan ibadah pun akan terasa hambar. Sama halnya seperti seekor kudu yang dicambuk dengan sangat keras, maka kuda itu tidak mau bergerak karena merasakan sakit yang sangat.

Oleh karena itu, rasa takut yang dianjurkan oleh syareat adalah rasa takut yang wajar atau rasa takut yang sedang-sedang saja. Karena hal tersebut dapat mendorong seseorang giat beribadah dan juga tidak melupakan kehidupannya di dunia. Sementara itu, para ulama sufi telah mengatakan prihal rasa takut kepada Allah.

Imam Abu Hafsh : “Takut ibarat lampu hatiyang dapat menunjukkan kebaikan dan keburukan.”
Imam Abu Qasim Al-Hakim : “Seseorang yang takut terhadap makhluk, pasti ia akan lari menghindarinya. Akan tetapi jika seseorang takut kepada Allah, maka ia akan lari mendekatiNya.”

Lantas, Bagaimana cara menghadirkan rasa takut kepada Allah agar kita mau berlari menuju kepadaNya ?

1. Hadirkan  Rasa Takut Terhadap SiksaNya
Siksa merupakan suatu balasan bagi orang-orang yang melanggar hukum. Baik itu hukum negara maupun agama. Oleh karena itu, bagi setiap orang yang ingin menghadirkan rasa takut terhadap Allah, hendaklah ia sentiasa mengingat-ngingat bahwa pedihnya siksaan yang Allah timpakan bagi yang melanggar aturannya. Sehingga dengan begitu akan timbul rasa takut dan beramal shaleh.

Imam Ghazali mengibaratkan rasa takut bagaikan seseorang yang terjatuh kedalam cengkraman binatang buas. Tentu orang tersebut berada dalam keadaan darurat. Ia tidak tahu, apakah binatang itu lengah sehingga ia bisa terlepas atau justru ia mati diterkam. Maka karena rasa takut yang begitu hebat, memaksa hatinya berpikir dan tubuhnya berjuang. Begitu pula bagi orang yang takut kepada siksaNya, seharusnya ia lebih hebat lagi perjuangannya dibandingkan usaha seseorang yang ingin melepaskan diri dari cengkraman binatang buas.

2. Mencegah Nafsu Syahwat
Nafsu  syahwat merupakan hal paling merusak bagi kehidupan seorang muslim, ia ibarat virus di dalam komputer ataupun kuman pembawa penyakit. Oleh sebab itu, ketika seseorang ingin menghadirkan rasa takut terhadap Allah, hendaklah ia membuang jauh-jauh dorongan nafsu syahwat dan setiap kesenangan yang melenakan. Karena dengan begitu suasana hati yang tadinya tidak ada rasa rakut, akan berubah menjadi rasa takut kepada Allah. Karena didalam jiwanya sudah tidak ada lagi noda-noda yang membuat cahaya Allah tertutup dalam  hatinya.

Bagi seseorang yang ingin menjernihkan mata hatinya, hendaklah ia berusaha untuk menundukan hawa nafsunya yang cendrung kepada maksiat. Jika ia berhasil, maka ia akan menjadi pribadi yang lemah lembut, khusyu’ dalam mendekatkan diri kepada Allah, merasa hina dihadapanNya, dan pada akhirnya hati menjadi tenang.

3. Mencegah Diri Dari Sesuatu Yang Subhat
Meninggalkan sesuatu yang dilarang sudah jelas hukumnya. Akan tetapi tak banyak orang mengetahui akan prihal subhat. Subhat adalah sesuatu yang meragukan. Misalnya seseorang membeli ayam di pasar, sedangkan ia tidak tahu proses penyembelihannya. Maka bagi orang-orang yang ingin menghadirkan rasa takut kepada Allah,  pasti akan menjauhinya. Itulah yang disebut dengan meninggalkan perkara yang subhat (meragukan). Jika seseorang telah berhasil menempuh jalan ini, maka ia telah benar-benar bertakwa dan memiliki sifat wara’. Sebab ia telah meninggalkan sesuatu yang meragukan karena khawatir terjebak dari perbuatan terlarang sehingga dengan meninggalkannya adalah lebih utama.

4. Merasa Diawasi
Hendaklah hati kita selalu meyakini bahwa setiap gerak gerik kita, baik itu ditempat yang terang maupun gelap gulita sekalipun, kita merasa selalu diawasi. Karena dengan begitu, kita akan terjaga dari hal-hal yang dapat mengotori jiwa, sehingga rasa takut kepada Allah akan hadir menjelma. Sebagaimana sabda Nabi saw kepada Ibnu Abbas ra. “Bertakwalah kepada Allah, dimanapun engkau berada.” (HR. Muslim)

5. Menjaga Kebeningan Hati
Jika seseorang telah takut berbuat maksiat dan takut untuk menyentuh hal-hal yang subhat (meragukan), dan senantiasa merasa diawasi. Maka hendaklah ia untuk selalu menjaga kebersihan hatinya dari sifat-sifat tercela. Seperti merasa diri lebih baik dari orang lain, iri, dengki dan sebagainya. Karena jika seseorang terhinggapi sikap tersebut, rasa takut kepada Allah perlahan akan pudar. Hal ini senada dengan ucapan Al-Imam Sulaeman Ad-Darani “Tidaklah rasa takut itu berpisah dari hati seorang mukmin, kecuali hati itu menjadi rusak.” Dan rusaknya hati karena sifat-sifat tercela yang bersemayam dalam diri.

Itulah beberapa cara menghadirkan rasa takut kepada Allah. Abu Sulaiman Ad-Darani pernah berkata : “Jika sikap takut telah tertanam dalam diri seseorang, maka kemuliaannya akan terangkat. Akan tetapi jika rasa takut itu diabaikan, maka derajatnya menjadi jatuh.”

Semoga Bermanfaat !

Hal-Hal Yang Harus Disyukuri

Hal-Hal Yang Harus Disyukuri
Hal- Hal Yang Harus Disyukuri,- Syukur merupakan salah satu bukti atau ungkapan terima kasih seorang hamba kepada Tuhannya, banyak ayat-ayat Al-Qur’an maupun hadits memerintahkan agar kita harus senantiasa bersyukur kepada Allah. 

Bahkan dalam ajaran tasawwuf, syukur bukan sebatas mendapatkan karunia, akan tetapi kebanyakan para sufi, mereka bersyukur tatkala mendapat musibah. Karena dalam pandangan hati mereka, musibah itu merupakan bentuk kasih sayang Allah yang akan meninggikan derajatnya, sehingga menjadikan mereka bersyukur atas musibah yang menimpa.



Adapun hal-hal yang patut disyukuri itu tentu sangat banyak sekali. Karena kenikmatan yang diberikan Allah kepada kita tidak dapat dihitung dan dinilai harganya. Jika kita mau berpikir dan mengkaji, maka kita akan tahu dari mana hakekat keberadaan kita. Seperti halnya proses penciptakan manusia. Sebagaimana yang tertuang dalam QS. Ath-Thoriq : 5 “Hendaklah manusia itu memperhatikan dari apa ia diciptakan.”


Tentunya proses penciptakan manusia terjadi dengan sangat komplek, menghubungkan satu sel dengan sel lain, menciptakan organ-organ dalam, membalutnya dengan kulit. Dan hal luar biasa lainnya, yang sulit untuk di deskripsikan. Sebagaimana yang telah penulis singgung pada artikel sebelumnya ‘Kehadiran Allah Pada Manusia’.


akan tetapi para orientalis Barat yang berhaluan ateisme, tidak setuju jika manusia di ciptakan oleh Allah. Mereka yakin jika manusia itu ada karena sebab dan akibat. Contohnya hubungan seorang laki-laki dan perempuan. Sungguh, pendapat tersebut sangat keliru, kedangkalan mereka memahami penciptaan manusia, sangat dangkal dan sederhana. Mereka belum mencapai hakikat kebenaran.


Karena jika mereka telah sampai pada hakikat kebenaran, mereka akan menyadari bahwasanya boleh saja seseorang melakukan persetubuhan, akan tetapi ketika sang maha pencipta tidak menghendaki lahirnya penciptaan manusia, maka tidak akan ada benih yang tumbuh di dalam rahim.


Pendapat para pemikir barat, selaras dengan ucapan Francis Bacon “Sedikit filsafat dapat membuat pemikiran seseorang cenderung ateisme. Akan tetapi filsafat yang mendalam akan membawa pemikiran seseorang kepada agamanya.”


Dan benar bahwasanya jika seseorang terus memikirkan setiap kejadian, maka akan tersingkap di dalam pemikirannya bahwa “Tangan Tuhan” hadir dalam setiap penciptaan. Oleh sebab itu sudah selayaknya kita bersyukur. Termasuk mensyukuri hadirnya kita ke dunia dengan organ-organ tubuh yang lengkap.


Kemudian sesuatu yang patut kita syukuri lainnya adalah tentang nikmat rezeki. Menurut pandangan para salaf bahwa rezeki itu tidak hanya harta benda atau pendapatan dari mencari nafkah. Nyawa, kesehatan, kemampuan berbicara, mendengar, berpikir, anak, pasangan, dan hal lainnya yang dapat dinikmati merupakan bentuk rizki yang harus disyukuri.


Dan tentu saja mereka yang senantiasa bersyukur ketika mendapatkan nikmat akan Allah tambahkan lagi nikmat itu, sementara yang mengingkarinya, sungguh akan ada balasan yang setimpal untuknya. Karena ia telah kufur, yakni kufur nikmat.


Karena lawan dari syukur adalah kufur. Apa penyebab seseorang menjadi kufur nikmat ? sesungguhnya penyebab utamanya adalah kebodohan dan kelalaiannya. Mereka terhalang untuk bersyukur karena dangkalan ilmu sehingga menyebabkan hawa nafsu mereka menjadi tinggi, dan sulit untuk ditundukan.


Mereka mengira mensyukuri nikmat cukup dengan ucapan “alhamdulillah”. Mereka tidak tahu bahwa syukur yang sebernarnya adalah menggunakan nikmat untuk menyempurnakan hikmah yang dikehendaki Allah. Hikmah yang dimaksud ialah menjadikan seorang hamba semakin tunduk dan taat kepadaNya.


Adapun lalai dari nikmat adalah karena seseorang itu sering menghitung-hitung nikmat orang lain. ia tenggelam dalam kesibukannya sehingga merasa nikmat yang diterimanya lebih sedikit. Hal yang demikian ini menyebabkan mereka tidak pernah bersyukur tetapi selalu haus akan nikmat orang lain, bahkan mengharapkan agar nikmat yang ada pada orang lain tersebut musnah. Na’udzubillah.


Sementara itu, Rasulullah saw pernah bersabda : “Seseorang yang melihat urusan duniawi pada orang dibawahnya dan melihat urusan agama pada orang di atasnya, maka Allah menulisnya sebagai orang yang bersabar dan bersyukur. Sedangkan seseorang  yang memandang perkara duniawi dengan membandingkan orang di atasnya dan memandang urusan agama membandingkan orang di bawahnya maka Allah tidak akan menulisnya sebagai orang yang bersabar dan bersyukur.”



Allahu a’lam
BACA JUGA:
Bersyukur Adalah Keharusan

8 Cara Menumbuhkan Cinta Sejati

8 Cara Menumbuhkan Cinta Sejati8 Cara Menumbuhkan Cinta Sejati,- Cinta, siapa yang tak pernah mengenalnya, setiap makhluk pasti dianugrahi rasa cinta. Entah itu terhadap sesuatu yang mulya, maupun sesuatu yang hina. Pada artikel ini penulis hanya akan membahas cara menumbuhkan cinta terhadap sesuatu yang mulya, yaitu sesuatu yang ridhai-Nya.

Para salafus shaleh penempuh jalan sufi berpendapat bahwa cinta sejati hanyalah cinta terhadap sang Khaliq. Cinta kepada makhluk bukanlah cinta sejati. Karena kekasih yang memberikan cintanya secara tulus tanpa mengharap imbalan apapun halanya Allah. 

Maka jika seseorang mampu menempatkan cintanya secara hakiki dan sejati hanya kepada Allah, maka ia akan mengalami kelezatan ibadah yang tiada tara. Sama halnya ketika seseorang tengah asyik berduaan dengan kekasihnya.

Banyak orang bilang bahwa cinta itu buta. Namun apa makna buta disana ? ternyata buta disana mengandung arti kinayah atau kiasan, bukan merupakan buta yang sebenarnya. Dalam literatur bahasa Arab ada bab yang dinamakan tasybih baligh,  yakni membuang huruf penyerupaan dan segi persamaannya. 

Dan konteks “cinta itu buta” masuk kedalam  bagian dari tasybih baligh tersebut. Jika huruf penyerupaan dan segi persamaannya diadakan, maka menjadi “Cinta itu seperti orang buta.” Maksudnya cinta itu tidak melihat.

Yaa, cinta sejati tida butuh bersinggungan fisik atau pun bertatap muka, namun cinta sejati merupakan terbukanya mata hati untuk dapat merasakan kehadiran sang kekasih. Ibarat kisah cinta antara Qais dan Layla atau lebih dikenal dengan Layla Majnun. Ketika Qais (Majnun) ditanya oleh seseorang “siapa namamu ?”  Dia justru malah menjawab “namaku Layla.” Itulah hakekat cinta sejati. Bahwa hakikat seorang pecinta adalah ketika dirinya telah lebur menjadi sang kekasih.

Diceritakan pula bahwasanya Mansyur Al-Hallaj ditahan oleh orang-orang selama delapan belas hari. Pada hari ketujuh belas datanglah Asy-Syubali ra menjenguknya. Beliau berkata : “Wahai Mansyur, jelaskan kepadaku apakah yang dimaksud dengan kecintaan itu ?” Al-Hallaj menjawab “Jangan bertanya kepadaku hari ini, tunggulah besok.” Keesokan harinya orang-orang mengeluarkan Al-Hallaj dan  menghamparkan alas berapi.

Pada saat itu lewatlah Asy-Syubali, lalu Al-Hallaj berteriak “Hai Syubali, tanda awal cinta adalah kebakaran dan akhirnya adalah terbunuh.” Telah tertancap dalam diri Al-Hallaj bahwa segala sesuaut selain Allah adalah fana, dan dia mengetahui bahwa hanya Allah yang benar-benar ada. Sehingga dia pun menjadi lupa terhadap dirinya, dan ketika hendak dibunuh beliau terus menggumamkan “ Ana Al-Haq ... Ana Al-Haq ... Ana Al-Haq.”

 Itulah cinta sejati. Karena seseorang yang sangat mencintai Yang Haq. Sampai-sampai lupa terhadap dirinya, lupa terhadap apapun selain Allah. Dan begitulah keadaan seorang pecinta, orang-orang yang mempunyai rasa cinta yang hakiki kepada Tuhannya, cinta mereka mampu menembus hijab antara dirinya dengan Yang Dicinta. Bahkan ketika hendak dibunuh, mereka tidak akan merasakan apa-apa. Selain rasa lezat menyebut nama Sang Kekasih.

Lalu bagaimana cara menumbuhkan rasa cinta kepada Allah ?
Al-Musyayikh berpendapat bahwa untuk menumbuhkan rasa cinta adalah dengan :

1. Sedikit bergaul dengan orang lain

2. Banyak menyendiri

3. Istiqomah dalam tafakur,

4. Keadaan hati dan lahiriyyahnya sesuai

5. Tidak melihat jika dipandang

6. Tidak menyahut jika dipanggil

7. Tidak bersedih hati ketika terkena musibah, dan

8. Tidak bangga jika mendapat pujian

Jika seseorang mampu melaksakan itu semua, maka dapat membuka hijab-hijab yang menghalanginya menuju cinta Tuhannya.

Allahu A’lam Bish-shawab