Showing posts with label NASEHAT. Show all posts
Showing posts with label NASEHAT. Show all posts

NASEHAT SANG AYAH II - Nak, Jangan Memegang Ular Itu

Dunia itu ibarat memegang ularNak, Jangan Memegang Ular Itu - NASEHAT SANG AYAH II,- Ketika kedewasaan dituntut, ketika fikiran sudah mengharuskan untuk hidup mandiri, dan ketika dorongan tanggung jawab harus dipikul sendiri, saat itulah terkadang diri jadi terbebani.

Seperti itulah gambaran yang mungkin dialami oleh setiap orang yang mulai beranjak dewasa. Begitu juga dengan ayah, nak. Saat ayah menginjak usia 20’an, pikiran ayah tidak bisa lagi fokus untuk kuliah. 


Ayah mulai berfikir kalau ayah harus belajar hidup mandiri, termasuk biaya hidup sehari-hari. Dengan perlahan ayah berusaha melepaskan diri dari meminta belas kasihan nenekmu, walau awalnya terasa berat, namun begitu ayah menjalaninya dengan senang hati dan tidak menggantungkan hidup ayah sepenuhnya kepada orang lain, ayah baru menyadari bahwa setiap tetes keringat yang bercucuran itu tersimpan kebahagiaan. 


Kebahagiaan saat cucuran keringat menjadi penyambung hidup ayah, kebahagiaan saat ayah sudah tidak merepotkan nenekmu lagi dan masih banyak lagi kebahagiaan yang sulit ayah tuangkan dalam cawan-cawan kata.


Pada intinya, setiap hal yang membuat kita bahagia; entah itu berupa materi, hadirnya seseorang, perasaan atau apapun itu, jangan kamu menikmatinya. Karena segala kebahagiaan itu bukan untuk dinikmati, sayang. Tapi untuk disyukuri. Seringkali kebahagiaan yang dinikmati itu selalu terselip keinginan diri lalu mengekspresikannya sesuai kehendak nafsu.

Namun jika kamu mensyukurinya, maka keinginan nafsu itu dapat tertahan dengan rasa syukur. Karena syukur tak pernah lepas dari Sang Pemberi Kebahagiaan, bahkan Dia akan memberimu kebahagiaan lain jika kamu selalu mensyukuri kebahagiaan yang sudah kamu miliki. Karena itu sudah janji-Nya, sayang.


Yaa, ayah berusaha untuk selalu mensyukuri kebahagiaan yang ada, akhirnya dengan rasa syukur itu ayah dipertemukan dengan orang-orang hebat, orang-orang yang banyak memberikan ayah pelajaran dan pengalaman berharga. Salahsatunya sahabat ayah yang saat ini tinggal di kota Kembang, darinya ayah belajar tentang konsekuensi kebahagiaan yang dinikmati. Menurut ayah, ia begitu mahir dalam segala bidang, ia begitu piawai dalam merangkai kata, laksana permata yang berhamburan dari lisannya, hingga siapapun yang mendengarnya pasti mengikutinya.


Ada satu hal yang membuat ayah kurang sreg dengannya. Dalam hal berbisinis, ia memang sangat pandai. Segala bidang bisnis telah ia tekuni. Namun saat tengah panjang lebar membicarakan peluang usaha dengannya, ada satu kalimat yang menurut ayah harus di kaji lebih dalam lagi, katanya : “Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya adalah pengusaha, maka kitapun harus mengikutinya”.


Sebait kalimat itu yang akhirnya memutuskan ayah berhenti membicarakan wirausaha. Bukannya ayah menyangkal Nabi saw dan para sahabatnya sebagai pengusaha, bahkan setau ayah diantara 9 dari 10 sahabat Nabi saw yang dijamin masuk surga, semuanya adalah pengusaha kecuali Sayyidina Bilal bin Rabah ra.


Bukan karena ayah tidak mau mengambil kesempatan emas itu  dan bukan pula ayah tidak mau meniru Nabi saw dan para sahabatnya. Tapi sebelum semua itu ayah ambil, ada hati yang harus ditata rapi, ada niat yang harus diperbaiki. Karena seringkali yang ditirunya itu bagus, namun penirunya belum menata rapi hatinya dengan baik, hasilnyapun tidak akan baik.


Ucapan sahabat ayah itu memang benar sayang, Nabi saw dan para sahabatnya adalah pengusaha. Namun kita jangan hanya terpaku pada kata “pengusaha” saja, lalu kita langsung menerapkannya, kita juga harus berfikir lebih jauh sayang. Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya menjadi pengusaha untuk kemajuan agama.


Sayyidina Abu Bakar Ash-shiddiq menyerahkan seluruh hartanya untuk meninggikan kalimat tauhid, Sayyidina Umar bin Khotthob mendermakan setengah harta kekayaannya untuk mensyiarkan agama, hingga pada masa beliaulah Islam tersebar luas keseluruh penjuru dunia.


Begitu juga dangan para sahabat Rasulullah saw yang lainnya, semuanya demi kepentingan agama, bukan kepentingan pribadi. Apalagi mengatasnamakan Nabi untuk memperkaya diri. Na’udzubillah.


Sayang, harta dan segala pernak-pernik dunia itu laksana ular, dan hanya seorang pawangnya-lah yang dapat menaklukannya. Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya adalah pawang bagi dunia ini, merekalah yang benar-benar mampu menjikkan ular bernama dunia. Namun ketika kamu bermain dengan ular itu, jangan pernah berharap kamu akan selamat dari gigitannya.


semakin kamu bermain-main dengannya, semakin memungkinan pula bisanya membunuh jati dirimu bahkan moral dan agamamu hilang terserap oleh racun ular yang terus menjalar melingkup hidupmu. Kenapa ? karena kamu bukan pawangnya. Butuh usaha yang kuat sayang untuk menjadi pawang ular bernama dunia, usaha memerangi hawa nafsumu sendiri. Ilmu dan keimanan juga harus tertancap kuat dalam jiwamu agar kamu bisa mengendalikannya.


Ayah mau cerita nak ! Dulu sekali di zaman Nabi saw dan para sahabatnya harta tertinggi itu berupa emas dalam bahasa Arab dinamakan dinnar. Biasanya bangsa Arab tidak sembarangan dalam menamakan sesuatu, selalu ada pelajaran berharga yang tersimpan di dalamnya, begitu juga dengan penamaan dinar.


Dinar merupakan pengambilan dari dua suku kata sayang,  دين yang berarti agama dan نار yang berarti neraka. Nak, jika kamu menyalurkan harta sesuai tuntunan agama, pasti ia akan menghantarkanmu kepada surga dan keridhoan-Nya, sebaliknya jika kamu menggunakannya untuk mememuhi segala keinginan dan memperturuti hawa nafsumu saja, pasti ia akan menghantarkanmu pada api neraka dan kemurkaan-Nya.


Nah nak, gunakan harta itu dengan baik yaa, kamu mampu ko. Selama dalam hatimu ada niat baik dan berusaha melaksanakannya, selama itu pula kesempatanmu menetralisir bisa ular bernama dunia lebih cepat kamu dapatkan.


BACA JUGA:

JANGAN MUDAH BERBURUK SANGKA

nasehat agar tidak mudah berburuk sangka

Berburuk sangka atau su'uzhan merupakan salah satu sifat yang dilarang agama. Setiap orang pasti tidak terlepas dari semua itu, tapi ada yang membiarkan sifat itu tetap bersarang dalam hatinya, ada juga yang berusaha untuk menghilangkannya. Kita sebagai seorang muslim, tentunya harus berusaha menghilangkan sifat itu dalam hati kita.


Mengenai hal ini, seorang sufi ternama pun pernah merasakan bagaimana perasaan buruk sangka itu mencengkram hatinya. Namun akhirnya ia pun sadar dan memberi inspirasi kepada kita semua. Berikut kisahnya :


Pada abad pertengahan, seorang pemikir besar dan perumus pola pikir kehidupan beragama ternama yang berdomisili di Iraq, bernama Imam Hasan Al-Bashri menuturkan sebuah penggalan cerita dari perjalan hidupnya saat dia berada di tepian sungai Dajlah. Tentang fenomena cara pandang terhadap prilaku sosial dan pola pembuatan assesment (menilai sesuatu).


Beliau melihat sepasang sejoli yang sedang menikmati indahnya sungai Dajlah di sore hari, nampak di samping mereka sebuah botol bertuliskan merk miras ternama di kalangan penduduk Bahgdad pada zaman itu, Hasan Al-Bashri pun bergumam dalam hatinya :


"Betapa buruknya perangai anak-anak muda zaman sekarang, prilaku mereka di depan publik sudah tidak lagi mencerminkan nilai dan norma yang mulia. syukurlah Allah menjaga dan memeliharaku dari keburukan akhlaq semacam itu."


Dari tengah sungai Dajlah tiba-tiba terdengar teriakan para penumpang kapal yang hampir tenggelam akibat menabrak sesuatu yang membuat sebagian dari tujuh orang penumpangnya tercebur ke sungai. Air sungai itu terlihat sangat deras. Para penumpang yang lain berusaha melompat dengan penuh ketakutan sambil meminta tolong karena tidak mau ikut tenggelam bersama kapal itu.


Pemandangan tersebut menarik perhatian semua orang yang berada di seputar lokasi rekreatif di tepian sungai yang indah dengan udara bersihnya. Hasan Al-Bashri berusaha merapat ke lokasi kejadian. Dia menyaksikan pemuda yang duduk-duduk di tepian sungai bersama seorang wanita tadi itu sedang berenang, berusaha menyelamatkan para penumpang perahu yang nyaris hanyut dan tenggelam. 


Sebuah drama evakuasi yang sangat heroik. Di iringi dengan iringan gempita teriakan sekumpulan orang yang tadinya hanya sedang menghirup udara segar di sore hari di tepian sungai yang legendaris dalam sejarah Baghdad itu.


Hasan Al-Bashri yang hatinya terhenyak dan ikut larut dalam drama evakuasi para penumpang kapal sore itu, tiba-tiba mendengar ucapan lirih ke telinganya dari arah belakang. Ternyata itu adalah seorang pemuda yang basah kuyup dengan napas terputus-putus : 


"Hanya enam orang yang dapat ku selamatkan, yang satunya lagi tidak. Tampilanmu nampak lebih suci dan lebih mulia dari kebanyakan orang, dapatkah kau menyelamatkan seorang lagi dari derasnya aliran sungai yang dalam itu ?" Tanya pemuda itu sambil mengisyaratkan wajahnya ke sungai yang ada di depan mata mereka.


Hasan Al-Bashri pun terdiam, dia memandangi wajah pemuda yang berdiri di hadapannya tanpa bisa berkata apa-apa. Lalu sang pemuda itu pun mendekatkan wajahnya ketelinga Hasan Al-Bashri sekali lagi, sambil membisikan kalimat  " Wanita itu adalah ibuku, dan isi botol disampingnya hanyalah air putih biasa, bukan alkhol dan bukan pula anggur."


Sekali lagi Hasan Al-Bashri tertegun mendengar ungkapan sang pemuda, hatinya serasa tersambar petir. Ia merenung dalam-dalam, kemudian berucap lirih "Tidak, aku tidak bisa menyelamatkannya, tapi kau telah berhasil menyelamatkan keenam orang itu."  Jawab Hasan Al-Bashri sambil mengarahkan pandangannya ke arah enam orang yang telah terbujur lemas dan hampir kehabisan napas.


Beliau pun melanjutkan : "Sekarang, bisakah kau menyelamatkan ku agar tidak hanyut oleh derasnya arus kesombongan dan kebanggaan diri yang telah menenggelamkan banyak orang sepertiku ?"


Sambil melangkah menuju ibunya, sang pemuda itu sedikit melantangkan suaranya pada Hasan Al-Bashri. "Semoga Allah mengabulkan permohonanmu."


Kisah yang saya ambil dari kitab Bahrud Dumu' karya Imam Ibnu Jauzi itu, telah memberi isyarat kepada kita, telah memberi inspirasi kepada kita, telah menyadarkan kita dari berbagai nafsu yang membelenggu diri.


Hikmah yang bisa kita petik dari kisah di atas :

1. Jangan mudah berburuk sangka pada orang lain hanya karena penampilan mereka tak sesholeh kita. Karena, apalah arti penampilan yang sholeh tanpa di barengi dengan hati yang bersih
2. Jangan pernah menjudge seseorang bahwa apa yang dilakukannya itu salah, hanya karena kita melihat hal disekitarnya buruk.
3. Jangan merasa berbangga diri atas kesholehan kita. Karena apalah arti kesholehan itu tanpa di dasari oleh kesadaran diri. Kesadaran bahwa kita hanyalah hambaNya. Kebaikan yang kita perbuatan sejatinya atas kehendak-Nya. (Mengenai hal ini, saya telah menulisnya pada artikel HILANGKAN AKU DARI AKU)


Terima kasih, semoga bermanfaat !

Hidup Seperti Berkendara - NASEHAT SANG AYAH III

Hidup tak ubahnya seperti kita sedang berkendaraHidup Seperti Berkendara - NASEHAT SANG AYAH III,- Nak, banyak orang yang menjalani hidup ini begitu hampa, terasa ada kekosongan dalam jiwa dalam menjalani hari. Wajar, karena kita hidup di dunia yang penuh dengan fatamorgana. Tatkala mata melihat sebuah pensil yang ada dalam gelas berair, kita menyangka itu adalah nyata, namun ternyata hal itu hanya mengelabui mata. Apa yang terlihat bengkok namun nyatanya lurus.

Begitulah hidup yang akan kamu jalani, sayang. Suatu saat kamu pasti akan mengalami hal yang tidak sesuai dengan apa yang kamu harapkan, bertolak belakang dengan apa yang kamu lihat dan bertentangan dengan apa yang kamu inginkan.


Namun seberapa pahitpun hidup yang akan kamu jalani nanti, jangan sampai kamu terus berada dalam bayang-bayang semu akan masa depan. Karena hidup adalah apa yang kita jalani hari ini. Jika kita menjalaninya dengan penuh semangat dan kegigihan, Tuhan pasti akan menentukan masa depan yang terbaik untuk kita, begitupun sebaliknya.

Fokuskan hati dan fikiranmu pada apa yang sedang kamu jalani sekarang, sinergikan keduanya pada apa yang menjadi prioritasmu. Jangan kamu sibukkan hati dan fikiranmu dengan pertanyaan “apa dan bagaimana” yang akan terjadi di masa depan nanti. Karna sekali lagi, hidup adalah hari ini.


Pernahkah kamu berfikir bahwa orang-orang yang pernah hadir dalam sejarah, yang namanya masih terabadikan sekarang ? kenapa nama mereka masih terukir rapi dalam buku-buku catatan ? karena mereka tidak pernah berfikir akan menjadi apa mereka suatu hari nanti. Hati  dan fikiran mereka selalu terfokus pada apa yang sedang mereka bangun, bukan melalang buanakan fikiran kealam yang belum mereka pijaki.


Nak, kamu pasti mengharapkan kebahagiaan di masa mendatang bukan ? Dan ayah yakin setiap orang juga mengharapkan hal demikian. Namun cobalah jadi seseorang yang istimewa, jadilah seseorang yang berbeda dari kebanyakan orang.


Jika kebanyakan orang berfikir bahwa mencapai kebahagiaan adalah tujuan utama, namun jadikanlah tujuan utamamu adalah setia pada prosesnya. Karena tak banyak orang yang setia pada proses dan tak banyak pula orang mengerti betapa pentingnya fokus pada proses. Hingga akhirnya ketika mereka mengkhianati proses, merekapun gagal mencapai tujuan yang diharapkan.

Hidup itu seperti berkendara. ketika kita mengendarai kendaraan hal yang pertama kita lakukan adalah menentukan tujuan, lalu berfokus pada jalan yang sedang kita tapaki. fikiran kita tidak boleh terus menerus berfokus pada tujuan, karena rusak fikiran rusak pula tujuan. dan sesekali kita harus melihat kaca spion, untuk mengambil pelajaran pada apa yang telah kita lalui.


Oleh karena itu, ketika kamu sedang bermesraan bersama proses, kuatkan tekadmu dan teguhkan hatimu. Karena jalan yang akan kamu lalui nanti ketika tengah bergandengan bersama proses itu tidaklah mudah. Kamu akan menemui berbagai duri dan krikil tajam yang suatu waktu dapat menggores langkahmu dan tak jarang dinding besarpun akan menghadang perjalananmu menuju harapan yang hendak kamu raih.


Teruslah melangkah nak, sekalipun duri dan krikil tajam menusuk lembut kakimu, panjat dan hancurkanlah dinding yang menghadang langkahmu dengan gada semangat. Gagal, coba lagi… jatuh, bangkit lagi… namun jangan pernah kamu menyerah.


Karena Tuhan selalu mengajarkan kita berproses dan Dia juga yang telah mendesign jatah gagal untuk kita. Dalam hidup (misalkan) Tuhan menghadirkan 10 jatah kegagalan untukmu, sedangkan kamu baru melewati 7 kegagalan, berarti tinggal 3 kegagalan lagi yang harus kau selesaikan. Hingga akhirnya, kamupun bisa meraih harapan yang selama ini kamu dambakan

Jangan lupa nak, hal yang paling penting ketika kamu tengah mendaki untuk mencapai puncak gunung kebahagiaan, hatimu harus selalu terpatri kepada-Nya. Karena dengan begitu kamu tidak akan pernah merasa sendiri. Ketika kamu berhasil menuju puncak kabahagiaan, kamu akan bersyukur dan ketika kamu tidak berhasil, hal itu tidak akan pernah membuatmu kecewa .



Baca Juga: 

Mencari Kebahagiaan - NASEHAT SANG AYAH IV

nasehat tentang kehidupan, motivasi kehidupan, perjuanganMencari Kebahagiaan - NASEHAT SANG AYAH IV,- Nak, suatu hari kamu pasti akan berkenalan dengan yang bernama kesedihan; sebuah ekspresi jiwa yang mengisyaratkan atas hilang atau tidak tercapainya sesuatu. Ia hadir begitu saja beriringan dengan hilangnya hal paling berharga dalam hidupmu.

Tak apa kamu mengenalnya, karena setiap orang juga pernah berkenalan dengannya, termasuk ayah. Beberapa kali ayah pernah kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidup ayah, baik itu barang berharga ataupun seseorang yang istimewa.


Ketika banyak orang bersahabat dengan kesedihan, mereka justru menghilangkan kesadaran mereka. Banyak orang yang ingin memutuskan hubungan dengannya, mereka semua pergi ke tempat-tempat yang mereka anggap bisa mengusir kesedihannya; dengan cara bersenang ria atau bahkan sampai melanggar norma agama, hanya untuk bercerai dengan kesedihan.  Itu sangat keliru sayang; sekejap, mereka mungkin bisa mengusir kesedihan yang menghinggapi jiwa, namun kesedihan itu akan hadir kembali setelah berada sendiri.


Senyum kebahagiaan yang mereka dapat saat ingin melepaskan diri dari kesedihan adalah senyum kebahagiaan semu. Mereka hanya terperangkat dengan ruang kebahagiaan yang berada di luar, bukan berasal dari dalam diri mereka sendiri. Wajar jika mereka merasakan kesedihan itu hadir kembali saat pergi dari ruang kebahagiaan tersebut. Karena sejatinya hanya fisik saja yang berpindah, sedangkan jiwanya masih berada dalam genggaman kesedihan.


Kebahagiaan itu bukan di cari, tapi diadakan. Seberapa banyakpun kita mengunjungi berbagai tempat dan melontarkan seluruh ekspresi kita untuk merayu kebahagiaan agar ikut bersama kita, hal itu takkan pernah kita dapatkan seutuhnya. Karena kebahagiaan sejati ada dalam diri kita sendiri, bukan dari orang lain atau tempat yang kita singgahi.




Nak, kamu pasti pernah melihat tabung gas kecil untuk menyalakan lilin. Seperti itulah kebahagiaan, gas yang terkumpul dalam tabung tersebut adalah sumber kebahagiaanmu, sedangkan pematiknya adalah dirimu sendiri. Kamu yang dapat menghadirkan percikkan-percikkan api kebahagiaan itu.

Lalu selama ini untuk apa kita bersusah payah mencari sumber kebahagiaan, sedangkan ia terpendam dalam diri kita sendiri. Akh, ayah jadi teringat perkataan Rumi, tokoh sufi ternama, ia pernah berkata :

“engkau mencari kalung permata dari satu ruangan ke ruangan lain, padahal kalung itu menggantung di lehermu sendiri”
motivasi dari mutiara

Kamu pasti bingung bagaimana caranya menghadirkan kebahagiaan dalam diri sendiri. Mudah kok nak, hal paling mendasar yang perlu kamu perhatikan adalah mengkondisikan hatimu agar jangan selalu terperangkap dengan kesedihanmu. Gunakan selalu akal sehat untuk menuntunmu. Karena terjebak dengan perasaan sendiri itu melelahkan, sayang.  


Kamu akan membuat dirimu sendiri lupa terhadap eksistensimu sendiri, bahkan kamupun lupa akan keberadaan orang-orang disekitarmu yang bisa membuatmu bahagia, pada akhirnya kamu akan terlupakan oleh orang lain. Raga memang ada, namun hati entah dimana.


Kesadaran itu perlu sayang, sadar bahwa apa yang ada di dunia ini tidaklah abadi, begitu juga dengan kesedihan. Tidak selamanya kesedihan itu menggenggam jiwa. Kamu pasti pernah melihat pelangi kan ? iya, kehadirannya mengisyaratkan bahwa setelah hujan dan petir berkecamuk, akan ada berbagai warna kebahagiaan yang indah. Begitu juga dengan kesedihan yang merangkulmu hari ini. Jadi tak usah bersedih lagi yaa ^_^


Baca Juga:
* HIdup Seperti Berkendara
* Nak, Kamu Jangan Memegang Ular Itu
* Belajar dari Uang Logam

Belajar dari Uang Logam - NASEHAT SANG AYAH I

Filosofi Uang logam, filosofi koinBelajar dari Uang Logam - Nasehat Sang Ayah,- Hidup memang tak seperti yang kita harapkan, sayang. Saat kita melangkah melewati ribuan hari, kita tidak akan selalu melewati hari dengan taman berbunga; suatu saat kamupun pasti akan menginjak hamparan padang pasir nan tandus.

Akan ada hari dimana yang kamu lalui nanti begitu terasa hampa; kesedihan, duka dan air mata akan menyelimuti setiap langkahmu. Tak apa, kamu tak perlu takut. Karena hal itu sudah merupakan sunnatullah yang telah digariskan kepada setiap hamba-Nya.


Nak, ketika kamu mengalami hal tersebut, kamu jangan terus berputar-putar dalam ruang kehampaan ataupun kamu hanya bisa terdiam di dalamnya, membiarkan waktu menyelesaikan kehampaanmu. Itu tidak akan pernah terjadi sayang. Sekalipun terjadi, waktu yang di butuhkan akan sangat lama dan kamu harus terlebih dahulu melewati berbagai rentetan peristiwa. 


Selama kamu menunggu peristiwa yang pas untuk menyembuhkan kehampaanmu, selama itu pula kamu akan selalu berteman dengan kesedihan dan duka yang menggelapkan harimu. sementara kamu tak tahu pasti kapan waktu waktu yang dinanti itu tiba. Sayang, kamu jangan membiarkan waktu yang menjawab, karena waktu hanyalah kumpulan detik yang di iringi kejadian, ia tidak bisa mengubah kondisi kita.


Ia tidak ditugaskan untuk menjawab setiap permasalahan setiap orang, tidak juga sebagai obat penyembuh luka. Waktu akan terus berlalu baik kita menginginkannya ataupun  tidak. Jadi jangan menyerahkan nasib kita kepada waktu, yang bisa merubah keadaan kita adalah kita sendiri, bukan waktu.


Nak, sekalipun kita di rundung masalah, sekalipun duka lara merobek keindahan hari-hari kita. Kita harus tetap berprasangka baik sayang. sebagaimana uang logam, padanya terdapat dua sisi. Begitupun dengan kehidupan kita sayang; selalu ada dua sisi pada tiap situasi, baik dan buruk. 


Kita mau pilih yang mana, apakah kita akan memilih yang baik dengan cara berpositif thinking atau justru kita akan memilih yang buruk dengan selalu bernegatif thinking pada setiap masalah yang menimpa kita. Ayah rasa tidak perlu disebutkan lagi dampak apa yang ditimbulkan dari keduanya. Karena setiap aksi, selalu mengandung reaksi.


Nah sayang, berusahalah untuk selalu mengambil sisi baik dari setiap kejadian, sekalipun itu bertentangan dengan rasa suka. kita harus tetap ingat sayang, Tuhan tidak mengucapkan “sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan” tapi Dia mengatakan “BERSAMA kesulitan ada kemudahan” itulah sebabnya kenapa kita harus tetap berprasangka baik terhadap sesuatu. Sekalipun sesuatu itu hal yang tidak mengenakkan untuk kita.


waktu kamu kecil, kamu sangat suka menonton film action. jagoan-jagoanmu begitu mahir bertarungnya. kamu pernah menonton film terminator kan, yang pemeran antagonisnya seorang polisi yang terbuat dari alumunium. ketika ia terus menerus dihujani senjata, tubuhnya kembali lagi seperti semula. begitulah kita seharusnya nak. secepat kita terluka, secepat itu pula kita menyembuhkannya.

Jangan pernah mengalah pada keadaan yaa nak  ^_^

Baca Juga :

Kesadaran Hati – Nasehat Untuk Para Pemuda

Kesadaran Hati – Nasehat Untuk Para PemudaKesadaran Hati – Nasehat Untuk Para Pemuda,- Inilah adalah sebuah kisah dari seorang ulama Turki terkemuka di zamannya, Syekh Badiuzzaman Said Nursi. Beliau menuturkan akan kesadaran diri beliau dari masa muda yang melenakan, yang kemudian beliau tulis dalam bukunya yang berjudul Risalah Nur.

Ketika sebagian rambut beliau sudah beruban dan hal itu menjadi pertanda tuanya seseorang. Berbagai teror akibat perang dunia pertama serta penawanan Bangsa Rusia yang memberikan dampat kuat dalam hidup beliau, hingga membuatnya bertambah lalai. Kondisi itu diperparah saat beliau kembali dari penawanan ke kota Istanbul. Dimana pada saat itu telah ada Khalifah, para pemimpin Islam, prajurit Turki Utsmani,  pemimpin masyarakat, maupun para santri memberi sambutan menakjubkan sekaligus penghormatan yang terkesan berlebihan.

Perasaan beliau menyaksikan hal tersebut membawanya dalam kondisi rohani yang buruk di samping kelalaian di masa muda. Pada waktu yang sama, beliau menjadi lebih banyak tidur sampai-sampai beliau berpikir bahwa dunia ini kekal abadi. Beliau menyadari bahwa kini dirinya tengah berada dalam kondisi yang sangat terikat dengan dunia seolah-olah tidak akan mati.

Pada waktu itulah beliau pergi ke Masjid Jami Sultan Bayazid di Istanbul, yang bertepatan pada bulan Ramadhan yang penuh berkah untuk mendengarkan lantunan Al-Qur’an yang dibacakan oleh para penghafal yang ikhlas. Dari lidah mereka beliau mendengar informasi Qur’ani yang begitu kuat seputar kematian dan fananya seluruh makhluk.

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Seluruh yang memiliki nyawa, pasti akan menghadapi kematian” (Ali Imran : 185)

Informasi tersebut langsung masuk ke dalam lubang telinga beliau, menembus dan merobek berbagai tingkatan kelalaian dan kealpaan yang sangat tebal hingga jatuh ke relung-relung kalbu yang paling dalam. Beliau kemudian keluar dari masjid lalu memperhatikan dirinya sendiri.

Ya, berbagai hal tampak jelas dengan munculnya uban-uban disekitar rambut beliau, dan dengan semua pertanda itu beliau menyaksikan dirinya sendiri bahwa masa muda yang sangat dibanggakan dan terlena dengan kenikmatannya mengucapkan  “Selamat Tinggal !”. Seketika itu pula terbukalah kalbu beliau untuk menerima dan memahami Qs. Ali Imran : 185 itu.

Makna yang terkandung di dalamnya adalah bahwa umat manusia ibarat sebuah jiwa. Ia pasti akan mati untuk kemudian dibangkitkan kembali. Demikian pula dengan dunia, ia  juga merupakan sebuah jiwa. Ia akan hancur dan lenyap untuk kemudian berwujud dalam bentuk yang lain. dari situ, beliau merenungkan lagi dirinya sendiri.

Beliau menyadari bahwa masa muda yang penuh dengan kesenangan telah pergi. Ia meninggalkan tempatnya untuk ditempati oleh masa tua yang penuh dengan kesedihan. Kehidupan yang terang dan cemerlang telah pergi untuk digantikan oleh kematian yang secara lahiriah tampak mencekam dan menakutkan.

Beliau memperhatikan dunia sebagai tempat yang menyenangkan, manis, mengasyikan, dan di kira kekal, ternyata berlalu dengan cepatnya menuju kefanaan. Agar tidak  terlena dalam kelalaian dan guna menipu diri, beliau memalingkan perhatiannya pada kedudukan  dan posisi sosial. Maka beliau pun mendapatkan penghormatan dan penghargaan yang luar biasa. Akan tetapi beliau tersadar bahwa semua itu hanya akan menyertainya sampai ke pintu kubuh yang sebentar lagi akan tiba. Disitulah segalanya akan padam.

Beliau menyadari pula bahwa segala riya’, egoisme, dan kelalaian yang bersifat sementara telah bersembunyi di balik tirai berhiaskan perasaan ingin dipuji dan disanjung orang. Itulah tujuan dari kebanyak orang yang ingin terkenal dan abadi di dunia.


Beliau pun kembali masuk ke masjid dan mulai menyimak kembali bacaan para penghafal Qur’an untuk menerima pelajaran lain. saat itulah beliau mendengar kabar gembira dari petunjuk  langit yang bersumber dari perintah suci Tuhan di mana Allah berfirman :

Lewat limpahan karunia yang berasal dari Al-Qur’an, beliau pun mencari pelipur lara, harapan, dan cahaya di seputar hal-hal yang membingungkan serta membuatnya sedih dan putus asa, tanpa mencari dari yang lain.

Maka, ku ucapkan ribuan terima kasih kepada Tuhan Sang Maha Pencipta yang telah memberikan taufik kepada beliau untuk menemukan obat pada penyakit itu sendiri, untuk melihat cahaya pada kegelapan itu sendiri, dan merasa terhibur dalam penderitaan itu sendiri.

Setelah itu beliau merenungkan masa muda, beliau merenungkan bahwa kepergiannya telah membuat sedih semua orang. Ia berlalu dengan kelalaian yang melenakan dan membingunkan terbungkus busana yang cantik. Seandainya beliau tidak mengetahui hakekatnya, pastilah masa muda itu membuat siapapun menangis dan bersedih sepanjang hidup.

Bahkan andaipun seseorang hidup seratus tahun, hanya beberapa tahun saja yang berlalu dengan senyuman dan keriangan. Hal ini sebagaimana ungkapan seorang penyair yang menangisi masa mudanya dengan penuh penyesalan.


بَكَيْتُ عَلَى الشَّبَابِ بِدَمْعِ عَيْنِي #  فَلَمْ يُغْنِ البُكَاءُ وَلاَ النَّحِيْبُ

Kutangisi masa mudaku dengan aliran air mataku # Akan tetapi tangisan dan ratapanku tidaklah guna


فَيا أسَفاً أسِفْتُ عَلىَ شَبَابٍ # نَعَاهُ الشَّيْبُ والرّأسُ الخَضِيْبُ

Sungguh aku sangat bersedih dan menyesal atas masa mudaku # Masa tua dan rambutku yang disemir (karena beruban) telah berduka cita atas masa mudaku


عَرَيْتُ منَ الشّبابِ وَكُنْتُ غَضًّا #  كمَا يَعْرَى مِنَ الوَرَقِ القَضِيْبُ

Masa mudaku telah hilang, padahal dahulu aku segar bugar # Sebagaimana batang pohon yang kering dengan gugurnya dedaunan


فيَا لَيتَ الشّبابَ يَعُودُ يَوْماً  #  فأُخبرَهُ بمَا فَعَلَ المَشيبُ

Aduhai seandainya suatu hari masa mudaku bisa kembali # Akan kukabarkan kepadanya tentang apa yang menimpa masa tuanya.

Ya, orang-orang tua yang belum memahami rahasia dan esensi masa muda akan menghabiskan masa tuanya dengan menyesali dan meratapi masa mudanya seperti penyair itu. sebenarnya, jika masa muda di lalui oleh seorang mukmin yang tenang dan wibawa serta jika kekuatan masa muda tadi dipakai untuk ibadah, pastilah ia menjadi kekuatan yang paling besar untuk menggapai kebajikan.

Semoga Allah Menjaga Masa Muda Dalam Ketaatan Kepada-Nya

Kesadaran Hati – Nasehat Untuk Para Pemuda

"Tulisanku tidak lain hanya mengharap rahmat-Nya, bahwa Dia akan menerima ucapan tulisanku sebagai ganti diriku ketika maut menjemput. Karena umurku yang sangat singkat ini takkan mampu menghapus dosa-dosaku yang sangat banyak. maka tulisan yang sifatnya permanen diharapkan dapat menebusnya."
Badiuzzaman Said Nursi - Kitab Al-Lama'at/248,-

Nasehat Imam Abu Hanifah Bagi Yang Ngebet Pengen Menikah


Al-Imam Abu Hanifah an-Nu’man pernah berpesan:

 ﻭﻻ ﺗﺘﻮﺯﻭﺝ ﺍﻻ ﺑﻌﺪ ﺃﻥ ﺗﻌﻠﻢ ﺃﻧﻚ ﺗﻘﺪﺭ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻘﻴﺎﻡ ﺑﺠﻤﻴﻊ ﺣﻮﺍﺋﺠﻬﺎ ﻭﺍﻃﻠﺐ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺃﻭﻻ ﺛﻢ ﺍﺟﻤﻊ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻼﻝ ﺛﻢ ﺗﺰﻭﺝ,

 ﻓﺎﻧﻚ ﺍﻥ ﻃﻠﺒﺖ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻓﻲﻭﻗﺖ ﺍﻟﺘﻌﻠﻢ ﻋﺠﺰﺕ ﻋﻦ ﻃﻠﺐ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﺩﻋﺎﻙ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﺍﻟﻰ ﺷﺮﺍﺀ ﺍﻟﺠﻮﺍﺭﻱ ﻭﺍﻟﻐﻠﻤﺎﻥ ﻭﺗﺸﺘﻐﻞ ﺑﺎﻟﺪﻧﻴﺎ ﻭﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﻗﺒﻞ ﺗﺤﺼﻴﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ,

 ﻓﻴﻀﻴﻊ ﻭﻗﺘﻚ ﻭﻳﺠﺘﻤﻊ ﻋﻠﻴﻚ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﻭﻳﻜﺜﺮ ﻋﻴﺎﻟﻚ ﻓﺘﺤﺘﺎﺝ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻘﻴﺎﻡ ﺑﻤﺼﺎﻟﺤﻬﻢ ﻭﺗﺘﺮﻙﺍﻟﻌﻠﻢ

 Janganlah engkau terburu-buru untuk menikah kecuali setelah engkau tau bahwasanya engkau sudah mampu untuk bertanggungjawab memenuhi seluruh kebutuhan istrimu. carilah ilmu terlebih dahulu, kemudian (setelah punya ilmu) kumpulkanlah harta benda dari jalan yang halal lalu menikahlah.

Jika engkau mencari harta benda di tengah-tengah waktumu mencari ilmu, maka engkau akan lemah di dalam mendapatkan ilmu, karena harta benda selalu mengajakmu untuk terus berniaga dengan orang-orang sekitarmu, dan engkau akan tersibukkan dengan urusan dunia juga wanita sebelum engkau benar-benar mendapatkan ilmu.

Jika itu yang terjadi maka waktumu akan tersia-siakan, dan engkau akan mempunyai banyak anak, keluargamu akan menjadi semakin banyak juga. Oleh karena itu, maka engkau akan sangat berhajat untuk memenuhi kebutuhan mereka dan engkau meninggalkan ilmu (di usia mudamu).

ﻭﺍﺷﺘﻐﻞ ﺑﺎﻟﻌﻠﻢ ﻓﻲ ﻋﻨﻔﻮﺍﻥ ﺷﺒﺎﺑﻚ ﻭﻭﻗﺖ ﻓﺮﺍﻍ ﻗﻠﺒﻚ ﻭﺧﺎﻃﺮﻙ ﺛﻢ ﺍﺷﺘﻐﻞ ﺑﺎﻟﻤﺎﻝ ﻟﻴﺠﺘﻤﻊ ﻋﻨﺪﻙ, ﻓﺎﻥ ﻛﺜﺮﺓ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﻭﺍﻟﻌﻴﺎﻝ ﻳﺸﻮﺵ ﺍﻟﺒﺎﻝ, ﻓﺎﺫﺍ ﺟﻤﻌﺖ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻓﺘﺰﻭﺝ

Sekarang, sibukkanlah waktumu dalam mencari ilmu pada masa-masa mudamu, pada waktu hatimu masih senggang dari banyak pikiran, kemudian setelah itu, sibukkanlah dirimu untuk mengumpulkan harta benda. Karena sesungguhnya banyaknya anak dan keluarga akan mengganggu pikiranmu dan ketika harta sudah kau raih, maka menikahlah.