Showing posts with label Kalam Ulama. Show all posts
Showing posts with label Kalam Ulama. Show all posts

Pengertian dan Manfaat Istighfar

Pengertian dan Manfaat IstighfarPengertian dan Manfaat Istighfar,- Istighfar adalah minta ampun. Istighfar lisan ialah membaca istighfar. Agar Allah memberi ampunan yang merupakan kunci surga di dunia maupun akhirat. Istighfar juga berarti istibdal (minta ganti). Saat susah minta diganti dengan mudah. Saat sempit minta diganti dengan lapang. Saat buntu minta diganti dengan solusi. Saat hina minta diganti dengan mulia.


Istighfar juga berarti istihwal (meminta perubahan). Kita meminta agar dirubah dari buruk menjadi baik, dari baik menjadi lebih baik, dari jauh kepada Allah menjadi dekat kepadaNya, dari dekat menjadi lebih dekat. Dari tidak bermanfaat menjadi bermanfaat, dan dari bermanfaat pada sesama menjadi lebih bermanfaat lagi. 

Istighfar menuntut revolusi jiwa. Jika kita sedang susah dan berharap menjadi mudah, maka kita harus mau mengubah jiwa pelit kita menjadi dermawan. Tangan yang bersedekah dan terus bersedekah hanyalah bukti dari perubahan jiwa. Makin sulit harus makin banyak sedekah, jangan makin perhitungan. Karena sedekah dapat menyelesaikan masalah dan mendatangkan barokah. 


Maksimalkan sedekah harta sampai kita merasa kehilangan dengan mengeluarkannya. Ini wilayah keyakinan, bukan logika dan pemikiran. Jika kita hina, maka jiwa harus diubah dari "merasa" dan marah menjadi tawadhu dan memaafkan. Itulah tuntutan istighfar.


Kita sering meminta perubahan keadaan dari yg tidak kita inginkan menjadi yang kita inginkan. Dari yg kita inginkan menjadi yang lebih kita inginkan, dan seterusnya. Masalahnya kita lupa untuk mengubah keadaan kita dari maksiat menjadi taat dan dari taat menjadi lebih taat. Hidup memang perjuangan. Allah maha menilai dan maha menentukan.


Allah tersenyum mendengar istighfarnya seorang hamba dan Allah mencintai orang yang beristighfar. Makin banyak seseorang beristighfar, makin dicintai oleh Allah, dan jiwa pun menjadi baik dan makin baik. (Rojaya)


Diantara ribuan manfaat dari memohon ampun atau beristighfar, berikut adalah 9 manfaat dari beristighfar.


1. Sebagai sebab pengampunan dan penghapus dosa-dosa.


Pengertian dan Manfaat Istighfar

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): Setiap anak cucu Adam pasti pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah ialah orang yang banyak bertaubat.(HR. At-Tirmidzi, hasan)

Manakala manusia melakukan maksiat atau dosa sebenarnya dia telah menzhalimi dirinya sendiri dan dalam keadaan yang bodoh. Oleh karenanya kita membutuhkan maghfirah. Tidak sedikit ayat yang berkaitan mengenai memohon ampunan kepada Allah, seperti yang dicontohkan oleh para Nabi  dan Rasul. Allah memerintahkan kepada mereka untuk senantiasa memohon ampun kepada-Nya. Dan ketika kita coba renungi sebenarnya kita sangat butuh beristighfar kepada Allah subhanahu wata'ala.

"Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,  (yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. 

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, segera mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosanya selain Allah? Mereka pun tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui. Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal."

(QS. Ali Imran : 133 - 136)

Ayat ini menyatakan kepada kita untuk bersegera. yang dimaksud bersegera disini ialah perintah untuk bergegas dalam melakukan kebaikan dan bersegera untuk beristighfar. Dan jangan berputus asa, Allah telah menjamin bahwa ampunan-Nya seluas langit dan bumi dan ini untuk orang yang senantiasa bertaqwa. Manakala berbuat atau melakukan hal keji maka ia langsung ingat Allah dan kemudian memohon ampun kepada-Nya.

"Dan, barangsiapa mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian dia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
(QS. An Nisaa: 110)

2. Melapangkan rizki 

Pengertian dan Manfaat Istighfar

Berbicara tentang rizki, rizki bukan hanya yang berupa harta atau finansial. Namun, rizki maknanya luas tidak sesempit itu, termasuk juga kesehatan dan waktu luang. Rizki dimaknai sebagai sesuatu yang terbaik yang diberikan kepada hamba.

Perkataan Nuh a.s. kepada kaumnya ;
"Beristighfarlah kepada Tuhanmu - sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun - 
niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan(pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai". (QS. Nuh :10-12)

Terdapat sebuah atsar dari Hasan Al Bashri rahimahullah yang menunjukkan bagaimana faedah istighfar yang luar biasa.

“Sesungguhnya seseorang pernah mengadukan kepada Al Hasan tentang musim paceklik yang terjadi. Lalu Al Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”.
Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kemiskinannya. Lalu Al Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”.
Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kekeringan pada lahan (kebunnya). Lalu Al Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”.
Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau karena sampai waktu itu belum memiliki anak. Lalu Al Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”.
Kemudian setelah itu Al Hasan Al Bashri membacakan surat Nuh di atas. (Riwayat ini disebutkan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar di Fathul Bari, 11: 98)

3. Terhindar dari siksa dan musibah

Pengertian dan Manfaat Istighfar

Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun. (QS. Al-Anfal:33)


4. Mendatangkan Rahmat Allah.

Pengertian dan Manfaat Istighfar

Perkataan Nabi Shaleh a.s. kepada kaumnya (kaum tsamud) :
Dia (Nabi Sholeh) berkata: "Hai kaumku mengapa kamu minta disegerakan keburukan sebelum (kamu minta) kebaikan? Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat".
(QS. An-Naml : 46)

Beristighar kepada Allah kemudian menyertakan dengan amal, dan amal merupakan sebab mendatangkan rahmat Allah.

5. Menambah kekuatan Jiwa

Pengertian dan Manfaat Istighfar

Perkataan Nabi Hud a.s. kepada kaumnya ;
Dan (dia berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa."
(QS. Hud : 52)

Kisah Shallahuddin dan tentaranya ;
Kisah Shalahuddin Al Ayyubi, ketika beliau berkeliling ke tenda yang pertama beliau melihat para orang-orang sedang qira'ah al-qur'an kemudian berkeliling ke tenda yang kedua beliau melihat orang-orang sedang qiyamullail dan berkeliling ke tenda yang ketiga beliau melihat orang-orang sedang memohon ampun kepada Allah dan tenda selanjutnya beliau mendapati orang-orang sedang tidur. Kemudian beliau mengatakan Dari arah sinilah (orang-orang yang tidur) kita akan kalah. 

6. Dapat Melapangkan Hati

Pengertian dan Manfaat Istighfar

yang menyebabkan sesak dan beratnya sesuatu boleh jadi karena maksiat dan dosa dan kita butuh sarana yakni beristighfar, dan manakala Rasulullah mendapati sesuatu yang mengganjal beliau beristighfar hingga 100 x.

7. Membuat wajah menjadi berseri dan bahagia di hari pertemuannya dengan Allah.

Pengertian dan Manfaat Istighfar

“Barangsiapa yang ingin bahagia dengan catatan amalnya (pada hari kiamat), hendaklah ia beristighfar kepada Allah.”
(HR. Ath-Thabarany)

“Sangat beruntunglah orang yang menemukan bahwa pada catatan amalnya terdapat banyak istighfar.” 
(HR. Ibnu Majah)

8. Membersihkan Noda Dalam Hati

Pengertian dan Manfaat Istighfar

“Sesungguhnya jika seorang mukmin melakukan dosa, maka tertorehlah noda hitam dihatinya.  Apabila ia bertaubat dan berhenti dari dosa itu dan memohon ampun kepada Allah, maka hatinya mejadi bersih dari noda tersebut.  Apabila dosanya bertambah, maka bertambah pula noda tersebut sampai menutupi hatinya.  

Itulah noda yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya : ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup (menjadi noda) hati mereka.” (QS. al-Muthaffifiin: 14) 
[Diriwayatkan oleh Ahmad (II/298), at Tirmidzi (no.3334) dan beliau menyatakan bahwa hadits tersebut derajatnya hasan shahih, Ibnu Majah (no.4244), an Nasa-i dalam kitab al Kubra(no.11658), Ibnu Hibban (no.930), serta al Hakim (II/562) dan beliau menshahihkannya. Sementara itu, adz Dzahabi berkata: ‘Menurut syarat Muslim.’ Diriwayatkan juga oleh al Baihaqi dalam Sunan-nya (X/188)]

Manusia apabila ia terbiasa melakukan dosa dan maksiat maka hatinya akan keras dan hidayah sulit untuk masuk.

9. Menjadi sebab terkabulnya doa seorang hamba.


Pengertian dan Manfaat Istighfar

Kisah Nabi Yunus a.s. ;
Di dalam perut ikan Nun, Yunus bertobat meminta ampun dan pertolongan Allah, ia bertasbih selama 40 hari dengan berkata: "Laa ilaaha illa Anta, Subhanaka, inni kuntu minadzh dzhalimiin (Tiada tuhan melainkan Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah orang yang telah berbuat dhalim)" Allah mendengar doa Yunus, dan Memerintahkan ikan nun mendamparkan Yunus di sebuah pantai. 

Seandainya kalau bukan karena doa Nabi Yunus kepada Allah, niscaya dia akan diperut ikan Nun sampai hari berbangkit. Sehingga Istighfar merupakan diantara bentuk terkabulkannya doa. 

Lafadz 
Mengenai lafadz istighfar secara umum yaitu "Astaghfirullahal 'azhim"  atau "Astaghfirullah". Bisa juga, Doa Sayyidul Istighfar, Doa perlindungan dari kesyirikan, 

Doa taubat pertama diucapkan oleh umat manusia, Nabi Adam a.s. dan Hawa: “Rabbana dzalamna anfusana wa in lam taghfir lana wa tarhamna lanakunanna minal khaasirin,” (Ya Tuhanku. Sesungguhnya kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Kau tidak mengampuni dosa-dosa kami, maka kami menjadi hamba yang merugi).

Doa Nabi Yunus a.s. manakala beliau meminta ampun dan pertolongan Allah manakala berada di perut Ikan Nun : "Laa ilaaha illa Anta, Subhanaka, inni kuntu minadzh dzhalimiin(Tiada tuhan melainkan Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah orang yang telah berbuat dhalim)"]



wallahu a'lam bish shawab.

5 Nasehat dan Cara Agar Bisa Istiqomah

Menapaki jalan istiqomahIstiqomah artinya berkesinambungan, tidak berubah-ubah atau tidak terputus –putus. Istiqomah harus tetap di lakukan oleh mereka yang ingin menempuh jalan yang diridhoi Allah. Istiqomah adalah sesuatu yang menyebabkan kebaikan menjadi sempurna. Dengan istiqomah berbagai kebaikan akan terwujud. Sementara itu, orang yang tidak istiqomah dalam ibadah atau berhijrah (menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya), maka ia tida akan dapat mencapai sesuatu yang dicita-citakan, yakni menyingkapkan kedekatan kepadaNya.

1. Nasehat Dari Allah swt
Oleh karena itu, Allah swt menganjurkan setiap orang untuk berusaha menjaga amal kebaikannya. Hal tersebut tercantum dalam Qs. An-nahl :92

وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا


“Dan janganlah kalian seperti perempuan yang menguraikan benang-benang yang sudah dipintalnya dengan kuat kemudian menjadi tercerai berai.”

Ayat tersebut mengandung makna implisit, bahwa jangan sampai hal yang sudah kita bangun bertahun-tahun, menjadi hancur hanya karena satu kesalahan. Oleh karena itu, tetaplah pertahan segala hal positif yang tengah kita bangun. Rawatlah ia dengan sebaik-baiknya, dan jagalah ia dengan sekuat kemampuan kita. Karena Hujjatul Islam Imam Abu Hamid Al-Ghazali pernah berpesan : “seseorang yang tidak bisa istiqomah dalam menapaki kebaikan, maka ia tidak akan bbisa memperbaikai dan meningkatkan dirinya ke maqam yang lebih tinggi.”

2. Nasehat Dari Rasulullah saw

استقيموا ولن تخصوا واعلموا أنّ خير دينكم الصّلاة، ولن يحافظ على الوضوء الاّ مؤمن 


“istiqomahlah kalian dan janganlan kalian menghitung amal kebaikan kalian. Ketahuilah, bahwa sebaik-baiknya (amalan) agama kalian adalah shalat. Dan tidak ada yang bisa menjaga wudhu, kecuali orang beriman.” (HR. Ahmad)

3. Nasehat Imam Ali Ad-Daqoq

Imam Ali Ad-Daqoq pernah berpesan : “jadilah engkau sebagai manusia yang mampu beristiqomah, dan janganlah sibuk untuk mengharapkan karomah. Bagaimana bisa engkau mendapatkan karomah, sementara Tuhanmu mengharapkan engkau tetap beristiqomah.”

4. Nasehat Imam Ali Ad-Daqoq
Beliau juga memberi nasehat lain bahwa istiqomah itu mempunyai tiga tingkatan. Pertama adalah penegakan, kemudian berdiri, dan akhirnya istiqomah. Penegakan merupakan proses menundukan hawa nafsu, berdiri merupakan berusaha untuk meneguhkan hati, dan istiqomah adalah terealisasikannya ibadah dengan hati yang konsisten serta hawa nafsu yang telah ditundukan.

5. Nasehat Imam Junaedi Al-Baghdadi
Ini merupakan kisah beliau, beliau menuturkan : “saya pernah bertemu dengan seorang pemuda dibawah pohon besar di daerah pedalaman. Pemuda itu merupakan salah seorang salik yang tengah menempuh perjalanan batin.

‘Apa yang membuatmu duduk disana ?’ tanya saya (Imam Al-Junaedi?)‘Mencari hal yang hilang.’Saya pun berlalu dan meninnggalkannya. Ketika pulang dari haji, saya mendapatkan pemuda tadi berpintah tempat.‘apa yang membuatmu pindah ?’‘Karena saya telah menemukan apa yang saya cari, dan ternyata ada di tempat ini. Karena itu, saya pindah dan menetap disini.’Kemudian Al-Junaedi berkata “saya tidak tahu mana yang lebih mulia. Apakah tetapnya karena pencarian sesuatu hal yang hilang atau tetapnya pada suatu tempat yang di dalamnya di peroleh apa yang dikendakinya.”

Dari redaksi percakapan Imam Al-Junaedi tadi di ketahui bahwasanya istiqomah itu dapat mendatangkan kemuliaan. Karena seorang pemuda salik tadi telah mendapatkan hal ia yang cari (bisa jadi sebuah karomah), akan tetapi ia belum tentu mendapatkan kemulyaan dari istiqomah.

Oleh karena itu, istiqomah itu sangat berat dilakukan. Namun jika kita ingin bisa beristiqomah dalam kebaikan, langkah pertama yang meski kita ambil adalah berusaha untuk menundukan hawa nafsu kita. Karena hawa nafsu itulah yang senantiasa menghalangi kita dari jalan istiqomah. Selain itu pula, kita juga harus berusaha membebaskan diri dari harapan-harapan dan angan-angan. Karena hal itu dapat merusak langkah kita menuju Allah.

Allahu a’lam bish-showab
Terima kasih, Semoga Bermanfaat !

10 Manfaat Dzikir Menurut Para Ulama

10 Manfaat Dzikir Menurut Para Ulama10 Manfaat Dzikir Menurut Para Ulama,- Dzikir, dzikir merupakan syarat rukun yang paling kuat dalam perjalanan seseorang menuju Tuhannya. Karena dalam setiap aktivitas ibadah baik itu syahadat, sholat, zakat, puasa, dan juga ibadah haji, semua itu dilakukan dengan berdzikir atau dengan menyebut nama Allah. Karena dzikir, adalah pondasi bagi seorang muslim sebelum ia melaksanakan ibadah lainnya.


Sementara itu, dzikir terbagi menjadi tiga bagian; dzikir lisan, dzikir arkan, dan dzikir hati. Dzikir lisan ialah bergeraknya bibir seorang hamba untuk menyebut dan mengagung-agungkan nama Allah, sementara dzikir arkan atau dzikir anggota badan ialah bergeraknya seorang hamba dalam setiap rutinitas yang dibarengi dengan niat dan tujuan sebagai bukti penghambaan diri terhadap Tuhannya. Sedangkan dzikir hati ialah Menghadirkan akan kebesaran dan juga keagungan Allah SWT., di dalam diri dan jiwanya sendiri, sampai mendarah daging. 

Tapi, manakah yang lebih utama antara dzikir lisan, dzikir arkan dan dzikir hati ? Hujjatul Islam Imam Abu Hamid Al-Ghazali menjelaskan bahwa “Jika seorang hamba yang menggunakan lisannya dan anggota tubuhnya untuk berdzikir secara istiqomah, maka hal tersebut akan mengantarnya kepada dzikir hati. Dan apabila seorang hamba sudah bisa berdzikir dengan seluruh anggota badan dan hatinya sekaligus, maka dia adalah seorang ahli dzikir yang sempurna dalam sifat dan keadaan laku spiritualnya.” (Mukasyafatul Qulub ; 166)

Jadi, dapat di tarik kesimpulan bahwa antara dzikir lisan, arkan, dan hati merupakan satu kepaduan yang takkan pernah bisa dipisahkan. Ketiganya memiliki keutamaan masing-masing yang dapat mengantarkan seorang hamba menuju Tuhannya. Sedangkan syarat pertama yang meski dilakukan adalah dengan istiqomah. Lalu, bagaimana agar kita bisa istiqomah ? silahkan baca artikel sebelumnya è Cara Agar Bisa Istiqomah.

Setelah mengupas pengertian dzikir, lalu apa keutamaan dzikir menurut para ulama ahli tasawwuf ?

1. Imam  Ali Ad-Daqoq
Beliau berkata : Dzikir dapat menyebarkan kewalian. Barangsiapa menetapi dzikir, maka dia akan dianugrahi penyebaran dan jika dia mencabut dzikirnya, maka penyebaran kewalian itu akan dicabut dari dalam dirinya.”

2. Imam Muhammad Al-Wasith
Beliau pernah ditanya tentang dzikir, beliau menjawab : Dzikir adalah keluar dari medan kelengahan menuju kepastian musyahadah yang mampu mengalahkan tekanan ketakutan dan tarikan rasa cinta.

3. Dzun Nun Al-Mishri (Nabi Yunus as)
Beliau berkata : Seseorang yang ingat kepada Allah dengan ingatan sesuatu disisi ingatanNya (maksudnya berdzikir), maka Allah akan menjaganya dari segala sesuatu, dan Allah akan memberi ganti yang lebih baik bagi sesuatu yang pernah hilang.”

4. Imam Abu Utsman
Beliau pernah ditanya orang seseorang yang semangat berdzikir namun tidak merasakan lezatnya dzikir. Imam Abu Utsman menjawab : “Pujilah Allah agar menghiasi diantara luka-lukamu dengan ketaatan.” Ucapan tersebut memberi isyarat, bahwasanya dzikir tidak akan terasa nikmat jika kita masih suka melanggar aturanNya, walau sedikit saja.

5. Imam Ghazali
Beliau berkata : Dzikir itu mempunyai keistimewaan-keistimewaan. Diantaranya ialah tidak dibatasi waktu. Bahkan tidak ada waktu kecuali seorang hamba diperintahkan berdzikir baik yang bersifat wajib ataupun sunnah. Shalat, meskipun kedudukannya sebagai ibadah yang paling mulia, namun dalam waktu-waktu tertentu tidak boleh dilaksanakan. Sedangkan dzikir boleh dilaksanakan sepanjang masa dan dimana saja.

6. Syekh Abu Abdurrahman
Beliau pernah ditanya, lebih mulia mana antara dzikir dan fikir (tafakkur) ? beliau menjawab : Dzikir lebih sempurna daripada pikir. Karena Dzat Al-Haq disifati dengan dzikir, bukan dengan pikir. Sesuatu yang menjadi sifat asli Al-Haq adalah lebih sempurna daripada sesuatu yang dikhususkan oleh makhluk sebagai sifat al-Haq.”

7. Imam Muhammad Al-Kattani
Beliau pernah berkata : “Jika saja tidak ada ketentuan yang menyatakan bahwa dzikir kepadaNya adalah kewajiban terhadapku, tentu aku tidak akan mengingatNya sebagai pengagungan kepadaNya. Seperti aku mengingatNya.” Ucapan beliau menunjukan bahwa dzikir sudah menjadi kewajiban mutlak baginya, dan hal tersebut di alami oleh para sufi.

8. Imam Ghazali
Dalam kesempatan lain, beliau pernah berkata : “Sesungguhnya di surga itu terdapat lembah yang subur. Ketika seorang ahli dzikir melakukan dzikir, para malaikan menanami pohon-pohon di lembah itu. ketika sebagian malaikat berhenti, ditanyakan kepada mereka ‘mengapa kalian berhenti menanam ?’ Para malaikat menjawab ‘Sahabatku (ahli dzikir) membuat badan kami lemah dan payah.’

9. Imam Sariy As-Saqothi
Beliau berkata : “Dalam sebagian kitab disebutkan : ‘Jika mengingatKu lebih menguasai hambaKU, beradi dia rindu kepadaKu dan membuatKu rindu kepadanya.’ Hal itu berarti bahwa barangsiapa yang ingin dirindukan Allah, hendaklah ia senantiasa memperbanyak dzikir.

Itulah, keutamaan-keutamaan dzikir yang di ucapkan oleh para ulama sufi. Dan sebagai tambahannya, Hujjatul Islam Imam Abu Hamid Al-Ghazali pernah berpesan : “Jika hidupmu selalu merasa tidak tenang, carilah ketenangan itu di tiga tempat; saat berdzikir, di dalam shalat, dan ketika membaca Al-Qur’an”

Allahu A’lam Bish-showab
Semoga Bermanfaat !

Baca juga ;
                      * Manfaat Dzikir Secara Medis

6 Wasiat Ulama Tentang Motivasi Menuntut Ilmu

buku dan ilmu, wasiat para ulama tentang ilmu6 Wasiat Ulama Tentang Motivasi Menuntut Ilmu,- Menuntut ilmu merupakan perkara yang wajib dilakoni oleh seluruh umat Islam. Nabi Muhammad saw sendiri menyabdakan bahwa hukum menuntut ilmu adalah wajib bagi muslim laki-laki maupun perempuan. Sementara itu, banyak para ulama memberikan wejangan baik itu ketika dalam halaqoh-halaqoh ilmu, maupun dalam kitab mereka tentang pentingnya menuntut ilmu. Salah satunya adalah Hujjatul Islam Imam Abu Hamid Al-Ghazali yang menuliskan perkara tersebut dalam kitabnya, Ihya Ulumiddin yang memposisikan bab tentang ilmu ini pada bagian pertama kitabnya.

Dan di bawah ini, saya rangkum 6 ungkapan dari 2 ulama tentang menuntut ilmu:

Wasiat atau Nasihat Asy-Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-Abbad Al-Badr -hafizhahullah kepada para penuntut ilmu syar’i dengan beberapa hal berikut: 

1- Ikhlas kepada Allah dalam menuntut ilmu. Hendaknya yang menjadi pendorongnya dalam mengumpulkan ilmu adalah karena untuk mengetahui kebenaran dan petunjuk, mengamalkannya dan mendakwahkannya. 


2- Bekerja keras dan bersungguh-sungguh dalam usaha memperoleh ilmu, menyibukkan waktu dengan hal tersebut, menjauhi sikap malas, lesu dan segala sesuatu yang bisa menghambat usaha memperoleh ilmu. 


3- Semangat dalam mendapatkan kitab-kitab yang bermanfaat, membacanya dan mengambil faidah darinya. 


4- Bersemangat untuk berteman dengan orang-orang yang baik, terutama orang-orang yang menyibukkan diri dengan ilmu, dalam rangka mengambil faidah dari mereka. Dan menjauhi pertemanan dengan orang-orang yang buruk agar selamat dari bahaya mereka. 


5- Hendaknya dalam melakukan amalan (ibadah) untuk mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla, senantiasa memadukan antara keikhlasan kepada Allah dan keteladanan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar engkau mendapatkan pahala yang besar dari Allah Ta’ala..


6- Al-'alim Al-Al'allamah Habib Umar bin Abu Bakar Al-Athos pernah berkata :

Aku terus mengamati setiap penuntut ilmu dari masa ke masa, namun semakin ke sini orang-orang berilmu semakin berkurang. (tapi aku sadar) sebenarnya dari masa ke masa, ilmu tidaklah berkurang. Akan tetapi para penuntutnya bagaikan seseorang yang hendak menimba air dengan ember yang penuh lubang, ia tidak akan mendapatkan air kecuali sedikit."

beberapa penyebabnya antara lain :

1. tidak di siplin dalam belajar
2. tidak menghadirkan hati dalam menerima bimbingan
3.  kurangnya kecintaan / perhatian terhadap ilmu
4.  kurangnya penghormatan terhadap guru

Itulah 6 wasiat dari 2 ulama klasik tentang motivasi menuntut ilmu. Terima kasih, semoga bermanfaat.


Wallahu a'lam bish-showab

Baca juga:

* Pentingnya menuntut ilmu, keutamaan, dan definisi ilmu

Dalil Merayakan Maulid Nabi saw Bagian Kedua


Dalil tentang memperingati Maulid Nabi sawDalil Merayakan Maulid Nabi saw,-  Kelahiran Nabi Muhammad saw merupakan curahan rahmat dalam sejarah kehidupan manusia. Hal ini telah dibuktikan oleh seorang penulis non muslim bernama Michael H. Hart dalam bukunya yang berjudul 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia. Dalam buku tersebut, ia memosisikan Nabi Muhammad saw diurutan pertama, karena track record beliau yang sangat mengagumkan. 

Dimana bangsa Arab yang tadinya penuh dengan pertumpahan darah, kebodohan-kebodohan, dan perbudakan. Akan tetapi setelah lahirnya Rasulullah saw dan membawa risalah langit, secara drastis hanya dalam kurun waktu kurang lebih 60 tahun, bangsa Arab manjadi bangsa yang memiliki peradaban nomor satu dibanding bangsa-bangsa lain (Seperti Romawi dan Persia). Maka dalam hal ini sudah sepantasnya bagi kita selaku umatnya untuk bersyukur dan bergembira atas lahirnya insan paripurna yang mengubah peradaban dengan waktu singkat. Sekaligus sebagai ungkapan rasa cinta.


Dalil Pertama

Sebagaimana sabda beliau saw:
“Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggamanNya. Tidaklah sempurna iman kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada orangtua dan anak-anaknya.” (HR. Bukhari)

Dan bagi kami, peringatan maulid Nabi saw merupakan salah satu bukti atau ekspresi rasa syukur dan kegembiraan kami akan kelahiran baginda Nabi saw. Dan kegembiraan kita akan kelahiran baginda Nabi Muhammad saw ke dunia ini merupakan suatu perintah dari Allah, sebagaimana yang tertuang dalam QS. Yunus : 58



Qs. Yunus 58, dalil tentang memperingati maulid
“Katakanlah : ‘Dengan (sebab) karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karena Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

Sahabat Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhu menerangkan bahwa fadl (karunia) adalah ilmu, sedangkan rahmat adalah kehadiran Nabi Muhammad saw. Di samping itu, perayaan maulid Nabi juga bisa disimpulkan dari makna umum firman Allah dalam Qs. Ibrahim : 5



 وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ اللَّهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

“... dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang bersabar juga bersyukur.”


Ayat di atas tidak diragukan lagi bahwa hari kelahiran Nabi Muhammad saw merupakan salah satu hari Allah yang sangat penting. Dari sini memperingatinya berarti mematuhi perintah-Nya, dan hal tersebut jelas bukan termasuk suatu perbuatan yang bertentangan dengan syariat (bid’ah atau sesat).


Dalil Kedua

Imam Muslim meriwayatkan dalam shahihnya:


عَنْ اَبِيْ قَتَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ  اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ اْلِاثْنَيْنِ ؟ فَقاَلَ ذَلِكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيْهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ اَوْ اٌنْزلَ عَلَيَّ فِيْهِ

Dari Abu Qatâdah Radhiyallahu anhu , sesungguhnya Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam pernah ditanya tentang puasa Senin, maka beliau menjawab: “Hari Senin adalah hari lahirku, hari aku mulai diutus, atau hari mulai diturunkannya wahyu”. [HR Muslim].

Dalam hadits ini terdapat sebuah makna implisit (isyarat)  bahwasanya Rasulullah saw mensyukuri hari kelahirannya dengan berpuasa pada hari senin. Inilah nash yang shohih dan shorih (jelas) tentang peringatan maulid nabi. Inilah bentuk pengagungan dan rasa syukur Rasulullah kepada Allah atas nikmatNya yang agung kepada beliau saw.

Beliau saw mengungkapkan rasa syukurnya dengan berpuasa. Ini semakna dengan perayaan maulid Nabi dalam benntuk dan cara yang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama. Yaitu sebagai bentuk rasa syukur atas lahirnya baginda Nabi tercinta. Oleh karena itu perayaan maulid tidak terbatas dengan puasa saja, bisa dengan sedekah, dzikir, salawat, mendengarkan sirah nabawiyyah,  ataupun amal ibadah lainnya. Hal tersebut di tegas oleh Al-Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar As-Qalany, sebagaimana yang di kutip oleh Al-Imam Jalaluddin As-Suyuti.


“Adapun perkara yang dikerjaka di dalamnya (perayaan maulid), hendaklah dibatasi pada sesuatu yang merupakan rasa syukur kepada Allah Ta’ala sebagaimana yang telah disebutkan, yaitu membaca Al-Qur’an, memberikan makanan, sedekah, melantunkan puji-pujian kepada nabi dan kezuhudan yang dapat menggerakan hati untuk melakukan kebaikan dan beramal untuk akhirat.” (Lihat Husn Al-Maqsudshad fii ‘Amal al-maulid. Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, 1985. h, 63.)


Sementara itu Imam As-Suyuti menafikan orang yang mengatakan tidak menemukan dalil dalam Al-Qur’an dan hadits tentang perayaan maulid nabi dengan mengatakan  : “Tidak menemukan bukan berarti tidak ada.” Bahkan beliau juga mendukung pendapat Imam Ibnu Hajar yang menemukan dalil lain tentang keharusan mengagungkan kelahiran nabi. Beliau berkata :


“Sungguh sangat jelas bagiku (As-suyuti) apa yang diriwayatkan dari sumber yang berbeda (Imam Ibnu Hajar) yaitu apa yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dari Anas bahwa Nabi saw, mengaqiqahkan dirinya sendiri sesudah masa kenabian, padahal kakeknya telah mengaqiqahkannya pada usia tujuh hari dari kelahirannya. Adapaun aqiqah tidak ada pengulangan untuk ke dua kalinya. 


Oleh karena itu, apa yang dilakukan nabi saw menerangkan rasa syukur beliau karena Allah telah menjadikannya sebagai rahmat bagi semesta alam, dan sebagai landasan bagi umatnya. Maka dari itu, boleh dan layak (mustahab) bagi kita untuk menanamkan rasa syukur atas kelahiran Nabi dengan mengumpulkan kaum muslimin, menyajikan makanan atau semacamnya sebagai perwujudan mendekatkan diri kepada Allah dan menunjukan kegembiraan atas kelahiran beliau saw.”


Sementara itu, Imam Ibnu Taimiyyah mengatakan : “Jadi, mengagungkan maulid dan menjadikannya sebagai trasi tidak jarang dilakukan oleh sebagian orang, dan ia memperoleh pahala yang sangat besar karena tujuannya yang baik serta sikapnya yang mengagungkan Rasulullah saw.” (Ibn Taimiyah, Iqtidha’ Al-Shirath Al-Mustaqim. Beirut : Darul Ma’rifah, h. 297)


Betapa jelasnya dalil perayaan maulid Nabi saw, selain berpuasa hari Senin, Rasulullah juga mengungkapkan rasa syukur atas dilahirkannya ke dunia ini sebagai rahmatan lil ‘alamin dengan beraqiqah untuk yang kedua kalinya. Maka sudah sepantasnya kita sebagai umatnya turut bersyukur bersama saudara-saudara kita untuk merayakan maulid nabi sebagai bentuk kegembiraan dan rasa syukur kita atas hadirnya beliau saw, dan juga untuk mempererat ukhwah Islamiyyah di antara kita. 


Dan jika dalilnya sudah benar-benar jelas, kita tidak perlu menanggapi syubhat-syubhat serta tuduhan miring para pengingkar maulid. Cukuplah apa yang di katakan Syekh Ali Jum’ah (salah seorang mufti Mesir) menjadi penentram kita.  “Tidaklah perlu diperhatikan pandangan orang yang nyeleneh dan melawan arus kesepakan amali umat dan pendapat para ulama.”


tambahan:

Sementara itu, ketika saya masih duduk di bangku tingkat 3 perkuliahan (2014) seorang dosen lulusan Pesantren terbaik dunia (Darul Musthofa, Hadramaut-Yaman) dan lulusan terbaik dari Universitas Al-Ahqof Yaman, pernah berkata kepada saya:
"Jika perayaan maulid selalu ditentang dan dilarang oleh sebagian umat Islam, maka kita hanya tinggal menunggu waktu saja jika generasi - generasi kita berikutnya tidak akan mengenal perjalanan hidup dari sang nabi, akhlaq mulya, dan kelembutan hati beliau saw yang dicontohkan para ulama secara mutawattir. Mereka hanya tau dari buku - buku bacaan saja, sedangkan buku bacaan tidak dapat memberi contoh keteladanan."
Allahu A’lam Bish-Shawab

Semoga Bermanfaat !

Dalil Merayakan Maulid Nabi Saw Bagian Pertama

dalil tentang memperingati maulidDalil Merayakan Maulid Nabi saw bag. 1,-  Bagi setiap muslim yang mempunyai ghirah kecintaan terhadap sang Nabi saw, bulan Robi’ul Awwal (maulid) merupakan moment yang sangat menggembirakan. Betapa tidak, di bulan ini (hampir 15 abad yang lalu) makhluk paling mulia, manusia paling lembut hatinya, seseorang yang terjaga dari dosa dan maksiat (maksum), dan nabi dan Rasul terakhir, dilahirkan ke muka bumi sebagai rahmat bagi semesta.

Kegembiraan ini pun diekspresiakn dengan berbagai hal yang positif, seperti lantunan ayat suci Al-Qur’an, shalawat, sedekah, mauidhoh hasanah, uraian tentang sirah dan sifar Rasulullah saw, yang akan menambah rasa cinta umat terhadap beliau saw; sang tauladan terbaik.

Tradisi ini telah dipraktekan oleh para pendahulu kita yang sholeh sejak abad ke 4 H dengan menghidupkan malamnya dengan melakukan berbagai macam ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Menurut Imam As-Suyuti,  bahwa pada masa itu yang mengadakan maulid pertama kali secara formal seperti sekarang inni adalah penguasa Irbil, Raja Mudhaffar bin Abu Said seorang raja yang sangat baik dan dermawan. Bagi beliau, merayakan maulid Nabi adalah bentuk penghormatan kepadanya, dan menghormatinya adalah sebuah kewajiban. (Lihat Muassasah Al-Risalah, 1993. Juz XXII, h. 336)


Namun belakangan ini terdapat suara-suara sumbang yang menentang perayaan maulid ini. Dengan berbagai argumen mereka semua menentang adanya perayaan maulid, dan bahkan mereka melakukan tuduhan-tuduhan keji terhadap perayaan maupun orang yang malaksanakan maulid. Jika saja mereka mau melirik sedikit terhadap sirah nabawiyyah, tentunya mereka akan mengerti mengapa maulid itu perlu di adakan.


Karena sejatinya inti dari perayaan maulid adalah agar generasi-generasi Islam zaman sekarang, bisa mengenal lebih terhadap Nabinya serta untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap beliau saw, dan juga sebagai bentuk suka cita dan kegembiraan umat Islam terhadap kelahiran sang Nabi.


Bayangkan saja:

“Jika orang seperti Abu Lahab saja yang jelas-jelas jahat, kafir dan tempatnya dineraka mendapatkan keringan hukuman setiap hari Senin karena ia bergembira lalu membebaskan hambas sahaya sebab lahirnya keponakan beliau (Nabi Muhammad saw). Lalu bagaimana jika yang bergembira itu adalah seorang muslim yang sepanjang hidupnya senantiasa melaksanakan perintah-perintah Allah dan mencintai nabi-Nya ?”

Keutamaan Dzikir Menurut Para Salaf

perkataan ulama tentang dzikirKeutamaan Dzikir menurut Para Salaf,- Tak dapat dipungkiri bahwa dzikir merupakan makanan bagi ruhani, penyejuk bagi hati, dan penentram bagi jiwa. Dzikir adalah kehidupan hati orang-orang beriman, dan cahaya yang menuntun mereka menuju negeri kesejahteraan (surga). 

Dzikir adalah amalan terbaik dan paling suci bagi orang-orang mukmin dihadapan Sang Raja, dan yang paling cepat untuk  mendobrak derajat mereka ke tempat yang lebih tinggi.


Para salafush sholih telah menghabiskan seluruh waktunya untuk terus berdzikir kepada Allah. Sekalipun tubuh mereka menghadap manusia, akan tetapi hati dan pikiran mereka selalu tertuju padaNya. Dengan mujahadah yang seperti itulah sehingga mereka dapat merasakan manisnya dzikir dan lezatnya menyebut namaNya. Banyak dari kalangan ulama salaf menuturkan tentang keutamaan dzikir agar kita senantiasa mengikuti jejak mereka, diantaranya:

1. Mu’adz bin Jabal, beliau menuturkan : 
“Tidak ada sesuatupun yang disesali penghuni surga selain waktu yang berlalu (ketika didunia) tanpa berdzikir menyebut nama Allah.”

2. Fudhail bin Iyadh berkata :
“Telah sampai kabar kepada kami bahwasanya Allah swt berfirman ‘wahai hamba-Ku, sebutlah nama-Ku sesaat setelah shubuh dan sesaat setelah ashar, niscaya Aku akan menjagamu diantara keduanya.”

3. Hasan Al-Basri berkata :
“Hamba yang paling dicintai Allah adalah ia yang paling banyak berdzikir kepada-Nya dan hatinya yang paling takut kepada-Nya.”

4. Malik bin Dinar berkata :
“Tidaklah seseorang menikmati sesuatu yang lebih nikmat dari dzikir, kecuali ia telah mendapat kesempurnaan iman.”

5. Rabi bin Anas berkata :
“Tanda kecintaan seseorang kepada Allah adalah saat ia terus sibuk menyebut nama-Nya. Karena ketika seseorang mencintai sesuatu, ia pasti akan sering menyebut  namanya.”

6. Dzun Nun berkata :
“orang yang hati dan lisannya sibuk berdizikir, maka Allah hujamkan cahaya kerinduan-Nya ke dalam hatinya.”

7. Salman Al-Farisi berkata :
“Ketika seseorang rajin berdoa yang dibalut dzikir saat senang, kemudian ia berdoa tatkala tertimpa musibah. Maka para malaikat berkata ‘ini adalah  suara yang tidak asing lagi.’ Mereka kemudian memberi syafaat kepadanya. Akan tetapi ketika seseorang tidak rajin menyebut namanya, para malaikatpun tidak akan berkenan membantunya.

8. Abu Darda berkata :
“segala sesuatu pasti memiliki kecemerlangan, dan cemerlangnya hati adalah dengan dzikir.”

9. Ibnu Abbas berkata  :
“setan selalu bersemayam di dalam hati anak Adam. Ketika anak Adam lalai berdzikir, maka setan nampak dan membisikan keburukan untuknya, akan tetapi ketika ia senantiasa berdzikir maka setan akan tetap bersembunyi.”

10. Abu Hurairah ra berkata :
“Sungguh, para penduduk langit melihat rumah-rumah para ahli dzikir mengeluarkan cahaya terang benderang. Sama hal seperti penduduk bumi yang melihat bintang gemintang bertaburan memenuhi langit.”

Allahu a’lam
Semoga Allah memudahkan lisan kita untuk berdzikir kepada--Nya !

Baca juga: 10 Keutamaan Dzikir Menurut Para Ulama | Manfaat Dzikir Secara Medis